HAK HARTA ATAS MANUSIA

A. Tinjauan harta sebagai kebutuhan manusia Harta atau kekayaan pada dasarnya bukan sesuatu yang tercela, semua manusia tahu betapa manfaat dan kegunaan harta baik dalam kehidupan dunia demikian juga dalam kehidupan akhirat nantinya. Di dalam kehidupan ini, manfaat harta demikian dirasakan baik terkait dengan agama secara langsung demikian juga untuk kehidupan sosial dan kemasyarakatan. Yang menjadi permasalahan adalah bagaimana manusia dengan harta. Ada beberapa sisi yang harus menjadi perhatian manusia dalam kaitannya dengan harta. • Manusia rakus terhadap harta • Mencari harta secara tidak halal • Menahan harta dari hak-haknya • Mempergunakan harta bukan pada tempatnya • Berbangga dengan harta Kenapa rakus ? Karena Manusia Tidak Pernah Merasa Puas dengan Harta Dikala manusia memperturutkan hawa nafsu terhadap harta, tentu tidak akan ada habis-habisnya, ibarat seseorang yang meminum air laut maka ia tidak akan pernah merasa lepas dahaga, demikian juga dengan harta seseorang tidak akan pernah merasa puas kendatipun ia telah mempunyai harta yang berlimpah ruah. Hal ini telah ditegaskan oleh Nabi Sallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya, “Kalau sekiranya manusia mempunyai dua lembah emas sungguh ia akan mencari lembah yang ketiga” (HR…..). Dalam hadits yang lain Nabi mengatakan, “Dua ekor serigala lapar yang dilepas pada kumpulan kambing tidak lebih buas dibandingkan dengan rakusnya manusia terhadap harta” (HR.Tirmidzi). Karena begitu rakusnya manusia terhadap harta sampai-sampai ia melalaikan hak-hak Allah untuk beribadah kepada-Nya. Berapa banyak manusia yang karena harta dengan pekerjaan dan kesibukannya melalaikan waktu untuk bersujud kepada Allah, demikian juga untuk melakukan haji, ia beralasan macam-macam karena kesibukannya dengan pekerjaan dan usahanya. Allah subhanahu Wata’ala telah mengingatkan manusia melalui potongan ayat,      •      •    •    “Hai orang-orang yang beriman janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.”(Q.S.63 Al Munafiquun : 9) Demikian juga dalam potongan ayat lain, Allah mengatakan,            “Bermegah-megah telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk kedalam kubur, Janganlah begitu.” (Q.S.102 At Takatsur : 1-3). Inilah sifat manusia, tidak pernah merasa puas dengan harta. Buktinya adalah hadits-hadits berikut: Pertama: Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Celakalah hamba dinar, hamba dirham, hamba pakaian dan hamba mode. Jika diberi, ia ridho. Namun jika tidak diberi, ia pun tidak ridho”. (HR. Bukhari no. 6435) Kedua: Dari Ibnu ‘Abbas, ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya manusia diberi dua lembah berisi harta, tentu ia masih menginginkan lembah yang ketiga. Yang bisa memenuhi dalam perut manusia hanyalah tanah. Allah tentu akan menerima taubat bagi siapa saja yang ingin bertaubat.” (HR. Bukhari no. 6436) Ketiga: Dari Ibnu ‘Abbas, ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya manusia memiliki lembah berisi harta, tentu ia masih menginginkan harta yang banyak semisal itu pula. Mata manusia barulah penuh jika diisi dengan tanah. Allah tentu akan menerima taubat bagi siapa saja yang ingin bertaubat.” (HR. Bukhari no. 6437) Keempat: Ibnu Az Zubair pernah berkhutbah di Makkah, lalu ia mengatakan, “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya manusia diberi lembah penuh dengan emas, maka ia masih menginginkan lembah yang kedua semisal itu. Jika diberi lembah kedua, ia pun masih menginginkan lembah ketiga. Perut manusia tidaklah akan penuh melainkan dengan tanah. Allah tentu menerima taubat bagi siapa saja yang bertaubat.” (HR. Bukhari no. 6438) Dari Anas, dari Ubay, beliau mengatakan, “Kami kira perkataan di atas adalah bagian dari Al Qur’an, hingga Allah pun menurunkan ayat, “Bermegah-megahan dengan harta telah mencelakakan kalian.” (QS. At Takatsur: 1). (HR. Bukhari no. 6440) Bukhari membawakan hadits di atas dalam Bab “Menjaga diri dari fitnah (cobaan) harta.” Beberapa faedah dari hadits-hadits di atas: Pertama: Manusia begitu tamak dalam memperbanyak harta. Manusia tidak pernah merasa puas dan merasa cukup dengan apa yang ada. Kedua: Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Perut manusia tidaklah akan penuh melainkan dengan tanah”, maksudnya: Tatkala manusia mati, perutnya ketika dalam kubur akan dipenuhi dengan tanah. Perutnya akan merasa cukup dengan tanah tersebut hingga ia pun kelak akan menjadi serbuk. (Syarh Ibnu Batthol) Ketiga: Hadits ini adalah celaan bagi orang yang terlalu tamak dengan dunia dan tujuannya hanya ingin memperbanyak harta. Oleh karenanya, para ulama begitu qona’ah dan selalu merasa cukup dengan harta yang mereka peroleh. (Syarh Ibnu Batthol) Keempat: Hadits ini adalah anjuran untuk zuhud pada dunia. Yang namanya zuhud pada dunia adalah meninggalkan segala sesuatu yang melalaikan dari Allah. (Keterangan Ibnu Rajab dalam Jaami’ul Ulum wal Hikam) Kelima: Manusia akan diberi cobaan melalui harta. Ada yang bersyukur dengan yang diberi. Ada pula yang tidak pernah merasa puas. Kenapa dengan cara yang tidak halal ? Carilah kekayaan hakiki Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kekayaan (yang hakiki) bukanlah dengan banyaknya harta. Namun kekayaan (yang hakiki) adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari no. 6446 dan Muslim no. 1051). Bukhari membawakan hadits ini dalam Bab “Kekayaan (yang hakiki) adalah kekayaan hati (hati yang selalu merasa cukup).” Ya Allah, Berikanlah Kepada Kami Kecukupan Oleh karena itu, banyak berdo’alah pada Allah agar selalu diberi kecukupan. Do’a yang selalu dipanjatkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah do’a: “Allahumma inni as-alukal huda wat tuqo wal ‘afaf wal ghina” (Ya Allah, aku meminta pada-Mu petunjuk, ketakwaan, diberikan sifat ‘afaf dan ghina) (HR. Muslim no. 2721) An Nawawi –rahimahullah- mengatakan, “”Afaf dan ‘iffah bermakna menjauhkan dan menahan diri dari hal yang tidak diperbolehkan. Sedangkan al ghina adalah hati yang selalu merasa cukup dan tidak butuh pada apa yang ada di sisi manusia.” (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al Hajjaj, 17/41, Dar Ihya’ At Turots Al ‘Arobi). Berarti dalam do’a ini kita meminta pada Allah [1] petunjuk (hidayah), [2] ketakwaan, [3] sifat menjauhkan diri dari yang haram, dan [4] kecukupan. Agama membolehkan seseorang menjadi orang kaya asalkan dengan cara yang benar tanpa merugikan orang lain. Makanya ketika mencari harta jangan sampai dengan cara-cara yang merugikan orang, bersikap curang, tidak jujur, mengeksploitasi dan ketidakmengertian orang, dan dengan cara-cara yang bertentangan dengan ketentuan Allah atau bertentangan dengan aturan main yang digariskan. Sebenarnya rezeki seseorang telah ditentukan oleh Allah, masing-masing dengan jatah dan porsinya. Manusia hanya dituntut untuk berusaha sedaya kemampuan yang ada, sementara yang menentukan adalah Allah. Allah telah menegaskan hal ini dalam firman-Nya,                    “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah lah yang memberi rezekinya.” (Q.S. 11 Huud : 6)                   “Allah meluaskan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. (Q.S.13 Ar Ra’d : 26) Hadits nabi juga menegaskan, “Wahai manusia baik-baiklah kamu dalam mencari rezeki, sesungguhnya tidak ada untuk seorang hamba kecuali apa yang telah ditetapkan untuknya” (HR. Ibnu Majah) Dalam hadits yang lain Nabi mengatakan, “Sesungguhnya Ruhul qudus (Jibril) menghembuskan kepada jiwaku, mengatakan : Sesungguhnya tidak ada suatu diri yang akan mati sehingga sempurna rezekinya dan ajalnya. Bertaqwalah kamu kepada Allah dan baik-baiklah dalam mencari rezeki, jangan karena terlambatnya rezeki lantas membuatmu mencarinya dengan cara-cara yang maksiat kepada Allah, sesungguhnya rezeki itu tidak akan didapati (berkahnya) kecuali dengan ketatatan kepada Allah” (HR. Al Hakim). Apa gunanya seseorang hidup dengan limpah ruah harta kekayaan akan tetapi merupakan tumpukan kemurkaan Allah, adalah lebih baik hidup bersahaja apa adanya asalkan dengan ridha Allah. Kalau akan berkembang hendaknya dengan cara yang benar yang diridhai oleh Allah SWT. Dikala manusia menginginkan rezeki yang tidak halal Allah membukakan pintu kearah itu, akan tetapi Allah tidak akan pernah memberkahinya. Hal ini terbukti di dalam kehidupan, betapa seseorang yang mendapatkan harta dengan cara yang tidak benar, maka akhir dari hidupnya bahkan keluarganya berujung dengan petaka dan bencana. hak-hak harta Jangan Bakhil terhadap harta Kecintaan manusia terhadap harta akan sulit untuk dihilangkan, kaena memang hal itu sudah menjadi karakter dasarnya. Selain itu, Al Qur’an juga memberitakan kepada manusia bahwa hidup di dunia ini hanya permainan, tempat untuk bersenang-senang, saling membanggakan diri di antara manusia, berlomba-lomba untuk mengumpulkan harta dan memperbanyak anak keturunan. Di sisi lain, Al Qur’an juga mengajak manusia untuk beriman dan takwa kepada Allah, dan Allah akan memberikan pahala dan balasan atas keimanan yang dimiliki manusia. Kecintaan manusia terhadap harta tidak bisa dihilangkan, untuk itu, perintah Allah yang berkaitan dengan harta sangat memperhatikan karakter dasar manusia. Untuk itu, Allah tidak akan mewajibkan kepada manusia untuk memperbanyak infaq di jalan kebaikan, manusia tidak akan diperintah untuk membelanjakan seluruh harta yang dimiliki di jalan Allah, kaena memang hal itu akan sulit dilakukan manusia. Allah hanya mewajibkan kepada mereka untuk mengeluarkan zakat atas harta yang mereka miliki, dan itu hanya beberapa persen saja. Selain itu, manfaat yang akan dirasakan karena adanya zakat, akan kembali kepada manusia juga, terutama kaum fakir dan miskin, dan juga ia masih berhak untuk mendapatkan pahala di sisi Allah. Jika Al Qur’an menetapkan bahwa Allah akan memerintahkan manusia untuk menginfaqkan seluruh harta yang dimiliki, maka akan muncul karakter dasar manusia, yakni sifat bakhil dan tidak mau untuk berinfaq. Karena seperti dijelaskan di atas, manusia diciptakan untuk suka dan cinta terhadap kekayaan harta. Atas sifat rahmat Allah, maka tidak diwajibkan untuk membelanjakan seluruh harta yang dimiliki di jalan Allah, namun hanya sebagiannya saja. Ketika perintah untuk berinfaq diwajibkan, maka akan terdapat dua kubu, yaitu orang yang bakhil dan orang yang dengan ikhlas mau melakukannya, hal ini dijelaskan dalam surat Muhammad ayat 38 : “ Ingatlah, kamu ini orang-orang yang diajak untuk menafkahkan (hartamu) pada jalan Allah. Maka di antara kamu ada orang yang kikir, dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah-lah yang Maha Kaya sedangkan kamulah orang-orang yang membutuhkan(Nya), dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan seperti kamu (ini) “. Berdasarkan ayat di atas, manusia yang memiliki nilai-nilai keimanan yang kuat dalam hatinya, akan dengan penuh kerelaan untuk menginfaqkan hartanya, hal itu dilakukan untuk mencapai keridlaan Allah dan kemaslahatan masyarakat. Orang-orang ini, telah dikeluarkan dari hatinya, sifat-sifat kebakhilan dan kebenciannya terhadap infaq oleh Allah. Di sisi lain, orang yang tidak memiliki keimanan yang kuat dan murni, maka akan bersikap bakhil dan tidak mau berinfaq untuk mengeluarkan hartanya, mereka adalah orang-orang yang mengharamkan pahala Allah atas diri mereka karena tidak mau untuk berinfaq demi kemaslahatan hidup masyarakat. Padahal, hakikatnya Allah tidak akan pernah butuh terhadap manusia dan hartanya, baginya seluruh kekayaan yang ada di bumi dan langit, dan manusia-lah yang akan butuh dan membutuhkan Allah. Allah mempunyai kekuasaan penuh untuk membentangkan dan mentakdirkan rizki kepada hamba-Nya, mempunyai hak untuk memberi rizki kepada seseorang yang dikehendaki-Nya, kapan, dimana, dan dengan cara bagaimana Allah menghendaki. Allah mempunyai kekuatan penuh untuk menentukan orang-orang yang mau taat dan tunduk kepada-Nya, ataupun orang-orang yang membangkang dan bakhil, orang yang tidak mau untuk menginfaqkan hartanya di jalan Allah. Selain itu, Allah juga mempunyai kuasa untuk mengganti kehidupan suatu kaum dengan kaum lain, menentukan kehidupan masyarakat, sehingga akan ditemukan kelompok masyarakat yang mau untuk taat dan gemar berinfaq di jalan Allah. Sebagaimana Allah telah berfirman dalam surat Muhammad : 38. Di sisi orang-orang yang bakhil terhadap hartanya, juga terdapat orang-orang yang mau mengorbankan harta bendanya demi memenuhi kebutuhuan orang-orang fakir dan membutuhkan, orang-orang yang lebih memilih kehidupan akhirat daripada kehidupan dunia yang hanya sementara. Orang-orang yang mempunyai nilai-nilai keimanan yang tulus dan ikhlas, dan bersedia untuk mengorbankan apa yang dimiliki untuk mempertahankan dan meningkatkan nilai-nilai keimanan yang dimiliki. Allah berfirman dalam surat Al Hasyr : 9 : “ Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung “. Dalam ayat tersebut, Al Qur’an menceritakan nilai-nilai keimanan yang dimiliki oleh kaum Anshar yang telah tinggal dan bermukim di Madinah. Keimanan tersebut telah tertanam dalam hati mereka yang ikhlas, sehingga akan muncul sikap-sikap untuk mengutamakan saudara mereka se-akidah dengan mengesampingkan kepentingan pribadi mereka. Kaum Anshar merelakan harta, rumah, isteri, perdagangan, ataupun kepemilikan mereka untuk dinikmati bersama dengan Kaum Muhajirin, mereka mempersilahkan mereka untuk turut menikmai apa yang telah mereka miliki, walaupun sebenarnya mereka sangat butuh atas semuanya. “ Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang-orang Muhajirin”,Kaum Anshar tidak memiliki sifat iri, dengki, ataupun hasud terhadap Kaum Muhajirin atas harta ghanimah yang mereka terima. Harta ghanimah yang diperoleh Nabi dari Bani Nadhir dibagikan seluruhnya untuk Kaum Muhajirin, dan hanya 3 orang dari Sahabat Anshar yang mendapatkannya. Kaum Anshar merelakan dengan sepenuh hati pembagian harta ghanimah yang telah dilakukan Nabi, dan tiada seorang-pun yang membicarakan keinginan mereka untuk memiliki harta tersebut. “Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu)”, Kaum Anshar lebih mengutamakan kebutuhan Kaum Muhajirin atas hartatersebut, walaupun sebenarnya terdapat keinginan dan kebutuhan bagi mereka. Sikap itsar (lebih mengutamakan orang lain) mereka bukan berarti tidak butuh terhadap harta, namun dengan tetap adanya kefakiran dan kebutuhan, mereka lebih mengutamakan kebutuhan saudara se-akidah mereka Kaum Muhajirin daripada kepentingan pribadi mereka, dengan tujuan semata-mata untuk mencari ridla Allah. “Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung “, barang siapa yang telah dipelihara dan diselamatkan Allah dari sifat bakhil, tamak, dan cinta terhadap harta dunia, pelit untuk menginfaqkan harta demi kebaikan atau hanya menggunakan harta untuk kepentingan pribadinya, mereka adalah orang-orang yang ikhlas dan akan beruntung dalam kehidupan dunia dan akhirat. Ketika nilai-nilai Islam telah tertanam dalam hati seorang mukmin, maka akan muncul nilai-nilai keimanan yang mendorong dalam bersikap, lahirlah nilai ketakwaan yang akan menjaganya dalam kehidupan, serta terdapat keikhlasan atas segala aktivitas yang dilakukan. Nilai dan sikap tersebut akan terus terpelihara demi mewujudkan kemaslahatan hidup manusia di dunia serta kehidupan masyarakat, seolah-olah seorang muslim tersebut akan hidup untuk selamanya, di sisi lain, ia akan berusaha untuk beramal dengan sekuat tenaga untuk akhiratnya, seolah-olah besok akan mati. Pribadi seorang muslim seperti inilah yang dibutuhkan oleh masyarakat, seorang individu yang akan menegakkan kehidupan dalam segala aspeknya, baik kehidupan politik, ekonomi, budaya, akidah, ibadah ataupun hubungan muamalah dengan sesama manusia. Sikap seorang muslim akan dituntun oleh nilai-nilai, norma, ataupun hukum-hukum yang telah dipesankan Allah melalui Al Qur’an, mereka akan bersikap sebagaimana petunjuk yang disampaikan Al Qur’an. Begitu juga ketika harus bersikap terhadap kehidupan dunia, sebenarnya manusia memiliki tabiat untuk mendewakan harta dunia, mensyakralkan kedudukan dan kekuasaan, ataupun sikap untuk memperturutkan hawa nafsu atas kenikmatan dunia. Namun, Al Qur’an membimbing manusia untuk memiliki sikap tegas terhadap dunia, dan memilih untuk lebih cinta dan taat terhadap aturan Allah. Sikap-sikap inilah yang telah ditunjukkan oleh Kaum Anshar, mereka lebih mengutamakan sikap itsar, saling tolong menolong, memiliki solidaritas sosial, dan rela berkorban harta benda dan diri mereka demi memepertahankan nilai-nilai akidah dan kehidupan saudara se-akidah. Allah memberikan ancaman kepada orang-orang yang mendewakan materi, mereka sibuk untuk mengumpulkan dan menyimpannya demi untuk kepentingan pribadi mereka. Harta yang mereka miliki digunakan untuk memperkuat kedudukan dabn kekuasaan mereka selama hidup di dunia, dan mereka mempunyai anggapan bahwa mereka akan hidup kekal selamanya dengan harta yang dimiliki, harta itu akan mempertahankan hidup mereka dan kekuasaan di dunia. Bagi orang-orang ini, Allah telah mempersiapkan siksa dan ancaman yang pedih dalam kehidupan setelah mereka mati, Allah berfirman: “Sekali-kali tidak dapat. Sesungguhnya neraka itu adalah api yang bergejolak, yang mengelupas kulit kepala, yang memanggil orang yang membelakang dan yang berpaling (dari agama)” (Al Ma’arij:15-17). Dalam ayat ini, Allah memberikan ancaman yang sangat keras terhadap orang-orang yang rajin mengumpulkan dan menyimpan harta, serta tidak mau untuk menunaikan hak-hak Allah, kaum fakir dan miskin dalam bentuk infaq. Ancaman ini akan diberikan kepada orang-orang yang bakhil terhadap harta, hidupnya hanya untuk mengumpulkan harta tanpa pernah mau untuk berinfaq di jalan kebaikan, dan tidak dikeluarkan hak Allah untuk diinfaqkan kepada kaum fakir miskin. Hasan Al Bashri berkata, ia pernah membaca ancaman Allah atas orang-orang yang mengumpulkan harta, baik dengan cara yang halal atau haram, bahwa mereka nantinya di akhirat akan menerima buku catatan amal mereka dengan tangan kiri mereka, bukan dengan tangan kanan. Hal ini-lah yang disampaikan Allah dalam firman-Nya: “Adapun orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya, maka dia berkata: “Wahai alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini), dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku, wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu. Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku, telah hilang kekuasaanku dariku. (Allah berfirman): “Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya”. Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala, kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta” (Al Haaqqah:24-32). Al Qur’an juga menerangkan bahwa orang yang mengumpulkan dan menyimpan harta yang banyak, cenderung memiliki sifat untuk ingin menguasai sesuatu, kepemilikan harta akan mendorong seseorang untuk mempengaruhi ataupun menguasai orang lain, dan kebanyakan, orang-orang yang berkuasa dalam masyarakat adalah orang-orang yang memiliki harta yang berlimpah. Dalam surat Al Humazah, Allah mencela orang-orang yang sibuk untuk mengumpulkan dan menyimpan harta, menumpuk harta kekayaan seolah-olah harta itu akan mengekalkan kehidupan mereka di dunia, mereka beranggapan bahwa harta itu akan membuatnya kekal di dunia dan kekal untuk dikenang orang setelah meninggal dunia. Tapi sebenarnya, sikap untuk cinta mengumpulkan dan menyimpan harta, serta tidak mau untuk dibelanjakan di jalan kebaikan atau kewajiban zakat, bukanlah sikap seorang muslim sejati, seorang muslim yang tahu bahwa rizkinya berada dalam kekuasaan Allah, akan berkurang dan bertambah sesuai dengan kehendak Allah. Seorang muslim sejati akan menginfaqkan harta yang dimiliki di jalan Allah, kebaikan, ataupun kemaslahatan umum yang telah diwajibkan oleh Allah, selain itu, mereka juga akan rajin untik memberikan sedekah demi kebaikan dan kemaslahatan hidup masyarakat. Berbeda dengan orang-orang yang sibuk mendewakan materi, mereka akan mengumpat, mencela, dan memperturutkan hawa nafsu mereka untuk mengumpulkan harta. Tidak terbersitpun dalam hati mereka untuk menginfaqkan harta mereka demi kemaslahatan hidup masyarakat, yang ada dalam hati mereka adalah bagaimana ia mampu untuk menumpuk harta sebanyak-banyaknya. Harta yang mereka miliki tak pernah tersentuh sekalipun atas fungsinya dalam kehidupan social, harta tidak pernah dibelanjakan untuk mewujudkan kesejahteraan dan kemaslahatan masyarakat. Allah berfirman: “Kecelakaan bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya, dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya, sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke Huthamah, dan tahukah kamu apa Huthamah itu? (yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan, yang (membakar) sampai ke hati. Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka, (sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang.” (Al Humazah:1-9). Namun di sisi lain, Al Qur’an juga menceritakan tentang tabiat orang muslim sejati, yakni orang-orang yang memiliki sifat untuk perhatian dan menaruh simpati terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Mereka merelakan sebagain hartanya untuk diberikan orang-orang yang membutuhkan dalam masyarakat, Allah berfirman: “kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya, dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta)” (Al Ma’arij:22-25). Mereka adalah orang-orang yang hatinya telah dipenuhi dengan rahmat Allah, sehingga tergerak untuk memberikan sedekah demi kemaslahaan saudaranya sesama muslim, yakni orang-orang fakir miskin dan membutuhkan. Mereka ingin berbagi rasa atas kenikmatan yan mereka terima, membangun sikap saling tolong menolong peduli terhadap orang lain memelihara solidaritas sosial, ingin mewujudkan distribusi harta kekayaan secara adil dalam masyarakat, mencukupi kebutuhan dasar masyarakat, sehingga akan tercipta sebuah kemaslahatan dan kesejahteraan. Dengan adanya sikap tersebut, maka akan memperkecil kesenjangan sosial di antara masyarakat, mereka akan memiliki tingkat kesejahteraan yang relatif sama dalam memenuhi kebutuhan dasar. Allah memerintahkan kepada seorang muslim untuk tidak menghardik atau mengeluarkan kata kasar terhadap orang yang meminta-minta, namun kita harus berkata secara halus. Kata-kata yang halus dan sopan, serta pemberi ampun merupakan sikap yang lebih baik dari orang yang memberikan sedekah tapi diikuti dengan celaan dan hinaan, krena hal itu akan melukai hati seorang peminta. Terkadang, kata-kata yang sopan dan halus, lebih bermakna dan menyentuh hati seorang peminta daripada nilai sedekah secara fisik itu sendiri. Seorang manusia akan diberi kemudahan oleh Allah untuk melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang telah diciptakan untuknya, seorang muslim yang mau untuk memberikan dan mensedekahkan hartanya kepada fakir miskin di jalan yangbaik, maka Allah memberikan kemudahan baginya untuk mendapatkan kebaikan dalam mengarungi kehidupan di dunia, sehingga mereka akan menjadi orang yang bahagia dalam kehidupan dunia dan akhirat. Dan begitu juga sebaliknya, orang yang bakhil dan tidak mau untuk mensedekahkan hartanya dan tidak taat terhadap Allah, maka Allah akan memberikan kesulitan bagi kehidupannya. Mereka tidak akan pernah mendapatkan kebahagiaan yang hakiki, dan akan menjadi orang yang celaka, baik di dunia ataupun akhirat. Sesungguhnya, nilai-nilai yang diterima Allah bukanlah nominal harta, akan tetapi nilai-nilai ketakwaan, keikhlasan dalam beragama, mempunyai dedikasi dalam bekerja di dunia untuk memakmurkan kehidupan dunia, serta demi kehidupan akhirat. Harta bukanlah standar nilai yang tepat untuk menilai keutamaan manusia, karena kemuliaan di sisi Allah hanyalah dengan nilai-nilai ketakwaan yang mereka miliki. Harta tidak akan berarti bagi pemiliknya setelah ia meninggal, ia akan menjadi abu dan tiada arti. Bagi orang-orang yang bakhil yang merasa tidak butuh terhadap Allah, selalu berkata dusta, maka ia akan menjadi orang yang celaka, dan sebaliknya, bagi orang yang bertakwa, maka ia akan menuai kebahagiaan yang hakiki, di dunia dan akhirat. Allah berfirman: “yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya, padahal tidak ada seorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridlaan Tuhannya Yang Maha Tinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan” (Al Lail:18-21). Seseorang yang mendapatkan harta dipersilahkan Allah untuk memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya, dengan melaksanakan hak-hak harta itu sebagaimana yang telah digariskan. • Untuk kehidupan pribadi dan rumah tangga Nabi SAW dalam sabdanya mengatakan, “Sesunguhnya Allah suka melihat bekas nikmat-Nya pada hamba-Nya” (HR. Tirmidzi). Allah mempersilahkan seseorang itu memanfaatkan harta yang ada untuk kebaikan dan kebahagiaan hidup dalam rumah tangganya, baik untuk kebutuhan tempat tinggal (rumah), mobil, dan kebutuhan-kebutuhan duniawi lainnya. Karena prinsip yang digariskan adalah dalam rangka mendapatkan dunia yang hasanah, yaitu kehidupan yang bahagia yang didukung oleh berbagai kelengkapan dan kebutuhan dalam hidup ini. • Untuk ketaatan dan ibadah kepada Allah Dari harta yang ada, seharusnya dimanfaatkan untuk lebih mentaatkan diri dan beribadah kepada Alah, seperti melaksanakan ibadah haji dan umrah ke tanah suci. Pada saatnya seseorang harus memenuhi panggilan Allah dalam melakukan haji dan umrah, ia harus berani meninggalkan kesibukan pekerjaan dan usahanya demikian juga keluarganya demi untuk beribadah kepada Allah SWT. Berapa banyak orang yang telah memiliki kekayaan, akan tetapi belum mau melaksanakan ibadah haji dengan berbagai alasan yang dikatakan bahkan suatu yang disesalkan, akhirnya ia meninggal dunia sementara ia belum haji padahal sebagai orang yang berharta seharusnya ia adalah orang pertama yang harus mengambil manfaat dari harta itu. • Untuk memperjuangkan diinul islam Apa yang diberikan untuk masjid dalam bentuk infaq, waqaf, dan lain-lainnya adalah merupakan pemberian langsung kepada agama karena manfaatnya dirasakan oleh semua kaum muslimin. Masjid yang indah dengan fasilitas yang memuaskan hati, dari karpet yang empuk, sound system yang baik, penerangan yang cukup, air yang lancar, kipas angin atau ac yang menyejukkan semuanya dinikmati oleh kaum muslimin yang beribadah didalamnya. Tidak mungkin masjid berjalan dengan berbagai aktifitasnya tanpa dukungan dana dari kaum muslimin. • Untuk saudara yang miskin yang membutuhkan Zakat, sadaqah, bantuan, dan sumbangan dalam menolong saudara sesama muslim yang membutuhkan adalah sasaran utama dalam pemanfaatan harta, demi mengatasi persoalan sosial ekonomi masyarakat. Kepada seorang yang berharta dituntut untuk peduli dengan orang-orang disekitarnya. Sebagaimana yang difirmankan oleh Allah: “Dan ia memberikan harta yang dicintainya itu kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, ibnu sabil, orang-orang yang meminta-minta, dan budak yang akan memerdekakan dirinya….”(Q.S.2 AlBaqarah : 177) • Bahkan untuk saudara atau teman yang kaya sekalipun Beramal dengan harta tidak hanya terbatas untuk orang miskin, anak yatim, atau agama secara langsung. Disuatu saat barang kali seseorang akan mengeluarkan hartanya untuk saudaranya yang kaya dengan memberikan hadiah. Hadits nabi mengatakan, tahaadaw tahaabbu, saling memberi hadiahlah kalian pasti kalian akan saling mencintai. Dengan hadiah cairlah perasaan buruk sangka yang tersimpan selama ini didalam hati, bahkan akan lebih mempererat rasa persaudaraan di kala memang selama ini hubungan pergaulan baik-baik saja. Disuatu saat dikala teman akrab akan menikahkan putra (putri)nya tentu sebagai teman akan memberikan bantuannya, kendatipun ia itu seorang yang kaya. Bukankah ini mengeluarkan harta (beramal) kepada seorang yang kaya? PERGUNAKANLAH HARTA UNTUK YANG BAIK-BAIK Dikala seseorang tidak sadar dengan harta yang dimiliki, ia bisa mempergunakan harta itu kepada hal-hal yang bersifat maksiat (bertentangan dengan ketentuan Allah), seperti ia yang berfoya-foya bahkan bersikap mubadzir dengan harta yang dimiliki. Allah telah mewanti-wanti supaya manusia jangan salah dalam mempergunakan harta, sebab akan berakibat kepada kehancuran baik ketika di dunia demikian juga diakhirat nantinya. “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (Q.S.17 Al Israa’ : 16) “Dan golongan kiri, siapakah golongan kiri itu. Dalam siksaan angin yang amat panas, dan air panas yang mendidih, dan dalam naungan asap yang hitam, Tidak sejuk dan tidak menyenangkan. Sesungguhnya mereka sebelum itu hidup bermewah-mewah, dan mereka terus menerus mengerjakan dosa yang besar.” (Q.S.56 Al Waqi’ah : 41-46) Apa yang harus DISOMBONGKAN dengan harta ? Dalam surat Muhammad, Allah telah menegaskan bahwa manusia diciptakan mempunyai tabiat untuk cinta dan membanggakan terhadap harta, manusia secara naluri akan memiliki nilai-nilai untuk suka dan cinta terhadap harta Harta yag dimiliki manusia adalah anugerah yang merupakan amanah dari Allah SWT, seharusnyalah seseorang memanfaatkan harta itu seperti yang diamanahkan kepadanya. Apabila manusia memanfaatkan harta dengan sebaik-baiknya tentu ia akan dilimpahi hidayah dan berkah oleh Allah SWT, sebaliknya dikala ia salah dalam mempergunakan harta tentu akan berakibat dengan kemurkaan Allah. Bagi Allah mudah untuk melimpahkan harta dan kekayaan demikian juga mudah untuk menghancurkannya. Seharusnyalah kita berhati-hati dikala mendapatkan amanah harta dari Allah. Harta seharusnya mendukung kebahagiaan di dalam kehidupan, bukan malah harta menghantarkan kejurang kehancuran. Dengan mempergunakan harta sebagaimana mestinya, memang kebahagiaan yang akan didapatkan, sesuai dengan doa yang selalu diucapkan, rabbanaa aatinaa fiddunyaa hasanah wa fil akhiirati hasanah waqinaa ‘adzaabannaar; Ya Allah ya Tuhan kami, berikanlah kepada kami di dunia ini hasanah (kebaikan) dan di akhirat juga hasanah (kebaikan) dan tolong pelihara kami ya Allah dari siksa neraka. Allah juga telah menegaskan di dalam firman-Nya :          •    “Dan ingatlah juga tatkala tuhanmu memaklumkan: sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti Kami akan menambah nikmat kepada kamu dan jika kamu mengingkari nikmat Ku, maka sesungguhnya adzabku sangat pedih.” (Q.S. 14 Ibrahim : 7) Dalam ayat lain Allah menyatakan : •   •        “Adapun orang yang memberikan hartanya di jalan Allah dan bertaqwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.” (Q.S.92 Al Lail : 5-7) Fitnah Harta Pada Manusia Harta membuat manusia lupa pada dirinya hingga menjadi celaka Perlu diwaspadai dalam hal yang berhubungan dengan pembelanjaan harta, fitnah (kerusakan) yang ditimbulkan dari kecintaan yang berlebihan terhadap harta tersebut, sebagaimana yang telah diingatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabda beliau, “Sesungguhnya pada setiap umat (kaum) ada fitnah (yang merusak/menyesatkan mereka) dan fitnah (pada) umatku adalah harta.” Maksudnya, menyibukkan diri dengan harta secara berlebihan adalah fitnah (yang merusak agama seseorang), karena harta dapat melalaikan pikiran manusia dari melaksanakan ketaatan kepada Allah Ta’ala dan membuatnya lupa kepada akhirat, sebagaimana firman-Nya,           “Sesungguhnya, hartamu dan anak-anakmu merupakan fitnah (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (Qs. at-Taghabun: 15) Kerusakan lain yang ditimbulkan dari kecintaan yang berlebihan terhadap harta adalah sifat tamak/rakus dan ambisi untuk mengejar dunia, karena secara tabiat asal nafsu manusia tidak akan pernah merasa puas/cukup dengan harta dan kemewahan dunia yang dimilikinya, bagaimanapun berlimpahnya (Lihat keterangan Imam Ibnul Qayyim dalam kitab Ighatsatul Lahfan, hal. 84 – Mawaaridul amaan), kecuali orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan hal ini dalam sabda beliau, “Seandainya seorang manusia memiliki dua lembah (yang penuh berisi) harta/emas, maka dia pasti akan menginginkan lembah (harta) yang ketiga.” (HR. al-Bukhari, no. 6075 dan Muslim, no. 116). Sifat rakus inilah yang akan terus memacunya untuk mengejar harta dan mengumpulkannya siang dan malam, dengan mengorbankan apapun untuk tujuan tersebut. Sehingga, tenaga dan pikirannya akan terus terkuras untuk mengejar ambisi tersebut, dan ini merupakan kerusakan sekaligus siksaan besar bagi dirinya di dunia. Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah berkata, “Orang yang mencintai dunia/harta (secara berlebihan) tidak akan lepas dari tiga (kerusakan dan penderitaan): Kekalutan (pikiran) yang tidak pernah hilang, keletihan yang berkepanjangan dan penyesalan yang tiada akhirnya.” (Kitab Ighatsatul Lahfan, hal. 83-84, Mawaaridul amaan). Dalam hal ini, salah seorang ulama salaf berkata, “Barangsiapa yang mencintai dunia/harta (secara berlebihan), maka hendaknya dia mempersiapkan dirinya untuk menanggung berbagai macam penderitaan.” Zuhud dalam Masalah Harta Zuhud dalam harta dan dunia bukanlah dengan meninggalkannya, juga bukan dengan mengharamkan apa yang dihalalkan Allah Ta’ala. Akan tetapi, zuhud dalam harta adalah dengan menggunakan harta tersebut sesuai dengan petunjuk Allah ‘Azza wa Jalla, tanpa adanya keterikatan hati dan kecintaan yang berlebihan kepada harta tersebut. Atau dengan kata lain, zuhud dalam harta adalah tidak menggantungkan angan-angan yang panjang pada harta yang dimiliki, dengan segera menggunakannya untuk hal-hal yang diridhai oleh Allah Ta’ala. Inilah arti zuhud yang sesungguhnya, sebagaimana ucapan Imam Ahmad bin Hambal ketika beliau ditanya, “Apakah makna zuhud di dunia (yang sebenarnya)?” Beliau berkata, “(Maknanya adalah) tidak panjang angan-angan, (yaitu) seorang yang ketika dia (berada) di waktu pagi dia berkata, ‘Aku (khawatir) tidak akan (bisa mencapai) waktu sore lagi.’” (Dinukil oleh oleh Ibnu Rajab dalam kitab beliau Jami’ul ‘Ulumi wal Hikam, 2/384). Salah seorang ulama salaf berkata, “Zuhud di dunia bukanlah dengan mengharamkan yang halal, dan juga bukan dengan menyia-nyiakan harta, akan tetapi zuhud di dunia adalah dengan kamu lebih yakin dengan (balasan kebaikan) di tangan Allah daripada apa yang ada di tanganmu, dan jika kamu ditimpa suatu musibah (kehilangan sesuatu yang dicintai) maka kamu lebih mengharapkan pahala dan simpanan (kebaikannya di akhirat kelak) daripada jika sesuatu yang hilang itu tetap ada padamu.” (Dinukil oleh oleh Ibnu Rajab dalam kitab beliau Jami’ul ‘Ulumi wal Hikam, 2/179). BERSEDEKAH DAN KEUTAMAANNYA BERSAMBUNG….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s